Review Film The Batman( 2022)

  • Share

Pada Januari 2019, Ben Affleck yang menjadi Batman di DC Extended Universe( DCEU) menyudahi mundur dari cetak biru film solo Batman. Warner Bros. setelah itu merekrut Robert Pattinson buat menjadi Bruce Wayne di film The Batman 2022 Cuevana. Luang dikira jadi pengganti Affleck, Pattinson nyatanya menjadi Batman yang terletak di luar DCEU.

Yup, jalur narasi The Batman serupa sekali enggak mempunyai koneksi dengan DCEU. Film ini apalagi menggambarkan dini kariernya Bruce yang terkini bertindak selaku Batman di Gotham sepanjang 2 tahun. Tidak hanya Batman, film ini pula menunjukkan barisan kepribadian DC ikonis, di antara lain Catwoman, Riddler, Penguin, serta kepribadian yang lain.

The Batman bercerita mengenai Bruce yang sudah menempuh kehidupannya selaku Batman sepanjang 2 tahun. Di tengah kekalutan Gotham, kota itu seketika digemparkan dengan pembantaian walikotanya. Dari pembantaian itu, muncullah banyak misteri yang bawa Batman menguak rahasia hitam Gotham.

  • Hitam, Intens, Serta Ceritanya Solid

Telah bukan rahasia lagi kalau film DC sama dengan film berwarna hitam. Walaupun Warner Bros. saat ini mulai membuat film serta serial DCEU dengan gradasi yang lebih jelas, image hitam DC sedang senantiasa menempel. Nah, kedatangan The Batman terus menjadi memanjangkan catatan film DC dengan gradasi hitam serta jauh dari tutur lawakan.

Enggak cuma ceritanya, penentuan tone visual filmnya juga pula betul- betul hitam semacam yang dapat kalian amati di trailer. Kemalaman filmnya juga terus menjadi dibantu dengan narasi yang sedemikian itu intens, yang dapat kalian rasakan dari dini sampai akhir film.

Terus menjadi banyak Batman membongkar misteri dari Riddler, terus menjadi banyak perihal membentangkan yang diperlihatkan di film ini. Sutradara sekalian pengarang dokumen The Batman, ialah Matt Reeves, pantas diacungi jempol! Selaku data, film ini lebih fokus menggambarkan bagian Batman selaku intel.

Nah, Reeves sukses membuat narasi intel yang sedemikian itu keras serta penuh rahasia tidak tersangka. Misteri yang dimainkan Riddler sedemikian itu pintar serta kalian akan terbuat heran dikala memandang gimana Batman membongkar misteri itu.

  • Sangat Seru

Satu perihal yang butuh kalian ketahui saat sebelum menyaksikan The Batman merupakan film ini mempunyai lama 2 jam 56 menit ataupun nyaris 3 jam! Buat dimensi film solo superhero, The Batman mempunyai lama yang lumayan jauh. Tetapi, lama sepanjang itu serupa sekali enggak membuat film ini terasa menjenuhkan apalagi enggak terasa 3 jam lalu.

Daya narasi yang sedemikian itu intens buat kalian lalu menantikan apa yang akan terbongkar berikutnya. Gimana Riddler mempermainkan Batman serta gimana Batman membongkar misteri Riddler jadi nilai penting yang membuat kalian merasa terikat dengan film ini. Permasalahan mayoritas film bertempo jauh umumnya ditemui sebagian segmen yang enggak sangat berarti.

Tetapi, sutradara Matt Reeves sukses membuat tiap detik dari 3 jam The Batman jadi berarti. Enggak terdapat satu juga segmen bertele- tele serta enggak berarti di film ini. Soalnya, tiap segmen mensupport gimana pengembangan kepribadian Bruce serta Batman. Ditambah lagi, film ini pula menyuguhkan segmen kelakuan yang melegakan.

  • Bintang Film Menunjukan Karakter Khasnya

Dikala Robert Pattinson awal kali diumumkan jadi Batman, banyak orang yang meragukan ketetapan itu. Mayoritas orang yang enggak sepakat dengan penentuan Pattinson sebab pengalaman si bintang film yang sempat membintangi seri film Twilight. Walaupun luang diragukan, Pattinson sukses meyakinkan kalau ia merupakan wujud yang pas menjadi Brue Wayne di The Batman.

Semacam yang dipaparkan pada nilai awal, sutradara Matt Reeves menghasilkan Batman dengan karakteristik khas tertentu di filmnya serta Pattinson merupakan orang yang pas buat Batman ciptaannya Reeves. Pattinson sukses menunjukkan Batman yang sedang aneh, mengarah pemalu, serta mengintimidasi. Image Edward Cullen yang menempel pada Pattinson langsung sirna sedemikian itu saja.

Enggak cuma Pattinson yang tampak sempurna, nyaris seluruh bintang film di film ini membagikan performa terbaiknya, spesialnya Paul Dano yang menjadi Riddler. Dikala Riddler mengenakan masker, Dano sukses menunjukkan wujud yang pantas dikhawatirkan oleh seluruh orang sebab kecerdasannya. Kala Riddler membebaskan topengnya, kita terus menjadi gelisah dengan si villain sebab Dano menunjukkan mimik muka edan yang buat kalian enggak ingin dekat- dekat dengannya!

  • Sinematografi Serta Nada Katagori Dewa

Kala trailer The Batman diluncurkan, banyak orang yang mengungkit visualnya yang sangat hitam. Memanglah hitam sih, tetapi bukan tanpa alibi. Visual gelapnya memanglah mensupport jalur narasi film ini serta kesuraman Gotham selaku kota yang betul- betul cacat oleh penggelapan para penguasanya.

Meski hitam dengan cara tone, sinematografi yang diperlihatkan di The Batman enggak main- main. Enggak dapat diragukan lagi kalau The Batman ialah salah satu film superhero dengan sinematografi terindah. Menyaksikan The Batman bagaikan menyaksikan buatan seni berwarna hitam yang buat kalian heran dengan perinci keindahannya.

Tidak hanya sinematografinya, perihal lain yang pantas diacungi jempol di film ini merupakan scoring musiknya. Scoring nada yang terbuat Michael Giacchino ini betul- betul sukses membuat keseriusan jalur narasi film ini. Kalian yang tidak sering mencermati scoring nada tiap nonton film juga akan terbuat cermat dengan scoring nada The Batman.

The Dark Knight( 2008) senantiasa diucap selaku film Batman terbaik sepanjang ini. Siapa duga, Matt Reeves berhasil membuat film Batman yang kualitasnya sebanding dengan The Dark Knight! Enggak diragukan lagi kalau The Batman ialah masterpiece buatan Reeves yang kembali memasang standar terkini buat film superhero.

 

  • Share
Exit mobile version