Sejarah Perkembangan Film Indonesia

  • Share

Bagaimana dengan industri film Indonesia? Topik lama ini telah dua dasawarsa lamanya menjadi bahan pembicaraan kalangan film Indonesia. Film-film Indonesia sekitar dua dasawarsa ini (1980-an dan 1990-an) terpuruk paling dalam. Insan film Indonesia laksana tak dapat berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang dihadapi mesti dinyatakan sangatlah kompleks. Mulai dari permasalahan dana, SDM, sampai kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yang seharusnya mempunyai pemahaman yang sama terhadap suatu industri film. Di mula millenium baru ini tampaknya mulai terdapat gairah baru dalam industri film Indonesia.

Karya-karya sineas laksana Garin Nugroho, Riri Reza, Rizal Mantovani, Jose Purnomo dan sejumlah sineas lainnya seperti menyerahkan semangat baru pada industri Voirfilms Indonesia. Kenyataan ini lumayan memberi harapan, sebab di samping terjadi disaat bersamaan dengan bangkitnya film-film dari dunia ketiga, tak terasa bahwa industri perfilman bahwasannya sudah seratus tahun dikenal di Indonesia. Di Indonesia, film kesatukali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa tersebut film dinamakan “Gambar Idoep”. Pertunjukkan film kesatu dilangsungkan di Tanah Abang. Film ialah sebuah film dokumenter yang mencerminkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag.

Pertunjukan kesatu ini tidak cukup sukses sebab harga karcisnya dirasakan terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi sampai 75% untuk memicu minat penonton. Film kisah kesatu kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film kisah impor ini lumayan laku di Indonesia. Jumlah pemirsa dan bioskop juga meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan. Film lokal kesatu kali diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film kisah yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara telah mulai diproduksi.

Film kisah lokal kesatu yang berjudul Loetoeng Kasaroeng ini diproduksi oleh NV Java Film Company. Film lokal berikutnya ialah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, lantas muncul perusahaan-perusahaan film lainnya laksana Halimun Film Bandung yang menciptakan Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah. Industri film lokal sendiri baru dapat membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company berkolaborasi dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu tersebut (1926-1931) sejumlah 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi.

Jumlah bioskop bertambah dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 menulis adanya 227 bioskop. Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, sesudah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam pesta rakyat ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film ini dirasakan karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang mengucapkan kritik sosial yang paling tajam tentang para bekas pejuang sesudah kemerdekaan. Di tahun ‘80-an, buatan film lokal meningkat. Dari 604 di tahun ‘70-an menjadi 721 judul film. Jumlah aktor dan aktris pun bertambah pesat. Begitu pula pemirsa yang mengunjungi bioskop.

Tema-tema komedi, seks, seks horor dan musik mendominasi buatan film di tahun-tahun tsb. Sejumlah film dan bintang film menulis sukses besar dalam meraih penonton. Warkop dan H. Rhoma Irama ialah dua nama yang selalu dirindukan oleh penonton. Film Catatan Si Boy dan Lupus bahkan dibuat sejumlah kali sebab sukses meraih untung dari jumlah pemirsa yang menjangkau rekor tersendiri. Tapi yang sangat monumental dalam urusan jumlah penonton ialah film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun terdapat campur tangan pemerintah Orde Baru) sejumlah 699.282, masih paling sulit guna di tandingi oleh film-film lokal lainnya. Kalau di mula munculnya bioskop, satu bioskop memiliki sejumlah kelas penonton, tahun ‘80-an ini bioskopnya yang menjadi berkelas-kelas. Cinemascope lantas lebih dikenal sebagai bioskop 21.

Dengan kehadiran bisokop 21, film-film lokal mulai tergeser peredarannya di bioskop-bioskop kecil dan bioskop-bioskop pinggiran. Apalagi dengan tema film yang ingin monoton dan ingin dibuat melulu untuk memburu keuntungan saja, tanpa mempertimbangkan bobot film tersebut. Hal beda yang pun tak dapat dipungkiri turut berperan dalam terpuruknya film nasional ini ialah impor dan penyaluran film yang di berikan kepada pihak swasta. Bioskop 21 bahkan melulu memutar film-film buatan Hollywood saja, tidak inginkan memutar film-film lokal. Akibatnya, di akhir tahun ‘80-an, situasi film nasional semakin parah dengan hadirnya stasiun-stasiun televisi swasta yang menghadirkan film-film impor dan sinema elektronik serta telenovela.

Meski dalam situasi “sekarat”, sejumlah karya laksana Cinta dalam Sepotong Roti, Daun di atas Bantal karya Garin Nugroho dapat memenangkan sekian banyak penghargaan di pesta rakyat film internasional.  Pertengahan ‘90-an, film-film nasional yang tengah menghadapi krisis ekonomi mesti berlomba keras dengan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Praktis seluruh aktor dan aktris panggung dan layar lebar berpindah ke layar kaca. Apalagi dengan kehadiran Laser Disc, VCD dan DVD yang kian memudahkan masyarakat untuk merasakan film impor. Namun di sisi lain, kehadiran kamera-kamera digital dominan positif pun dalam dunia film Indonesia. Mulailah terbangun komunitas film-film independen. Film-film yang diciptakan di luar aturan baku yang ada. Film-film mulai diproduksi dengan spirit militan.

Meskipun tidak sedikit fillm yang kelihatan amatir tetapi terdapat pun film-film dengan kualitas sinematografi yang baik. Sayangnya film-film independen ini masih belum mempunyai jaringan peredaran yang baik. Sehingga film-film ini hanya dapat dilihat secara terbatas dan di ajang pesta rakyat saja. Kini, film Indonesia sudah mulai berderak kembali. Beberapa film bahkan booming dengan jumlah pemirsa yang paling banyak. Sebut saja, Ada apa dengan Cinta, yang membangunkan kembali industri film Indonesia. Beberapa film beda yang laris manis dan menggiring pemirsa ke bioskop laksana Petualangan Sherina, Jelangkung, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi maupun Naga Bonar Jadi 2. Genre film pun kian variatif, walau tema-tema yang diangkat terkadang latah, andai sedang ramai horor, tidak sedikit yang memungut tema horor, begitu pun dengan tema-tema remaja/anak sekolah.

Dengan variasi yang diusung, tersebut memberikan peluang media film menjadi sarana pembelajaran dan motivator untuk masyarakat. Seperti film King, Garuda di Dadaku, serta Laskar Pelangi. Bahkan, Indonesia sudah mengawali masuk ke industri animasi. Meski bukan kesatu, dulu pernah terdapat animasi Huma, kini muncul film animasi Meraih Mimpi, yang direncanakan bakal go international.

 

  • Share
Exit mobile version